Bank DKI

Bank DKI

Menyasar bisnis ultra mikro, bank DKI memimpin konsorsium kredit dan pendanaan yang diberikan kepada PT Permodalan Nasional Madani senilai Rp 4 triliun. Secara sindikasi, bank DKI telah tertunjuk sebagai mandatd lead arranger sekaligus sebagai fasilitas agen, agen penjaminan dan agen escrow.

Penandatanganan pinjaman sindikasi dan perjanjian pembiayaan tersebut dihadiri oleh Direktur Utama Bank DKI, Fidri Arnaldy, bersama Direktur Keuangan Bank DKI, Romy Wijayanto, Direktur Kredit UMK & Usaha Syariah Bank DKI, Babay Parid Wazdi , Direktur. Bagian Kelembagaan dan Perencanaan PT Permodalan Nasional Madani, Sunar Basuki, bersama Direktur Bisnis PT Permodalan Nasional Madani, Kindaris, dan perwakilan kreditur sindikasi, disaksikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan, Plt. Kepala Badan Pengembangan Badan Usaha Milik Daerah DKI Jakarta, Riyadi, dan Kepala Bidang Perekonomian dan Keuangan Setda Provinsi DKI Jakarta, Muhammad Abas dan Betingslot di Jakarta, (02/12).

Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan mengapresiasi sindikasi pinjaman dan pembiayaan sebagai bentuk implementasi dalam perwujudan keadilan sosial dalam mekanisme pasar, sindikasi ini memberikan akses kepada usaha ultra mikro, mikro dan kecil. Sindikat ini diharapkan dapat meningkatkan kelas pelaku ekonomi dan meningkatkan yang kecil tanpa mengurangi yang besar. Ditambahkannya, konsorsium pinjaman dan pembiayaan ini juga akan bekerja sama dengan program pemerintah seperti JakPreneur dalam mengembangkan potensi bisnis di Jakarta.

Lebih lanjut Fidri menyatakan penyaluran kredit dan pembiayaan kepada PT Permodalan Nasonal Madani bakal disalurkan kepada pelaku usaha ultra mikro, mikro dan kecil yang tergabung dalam program Mekaar PNM dan ULaMM. Sistem penyaluran kredit sindikasi maksimal Rp 2,2 triliun untuk pinjaman konvensional dan Rp 1,8 triliun untuk pendanaan syariah.

Bank DKI

Sedangkan untuk kredit konvensional sebagian besar disalurkan oleh Bank Papua sebesar Rp 500 miliar, Bank Jatim sebesar Rp 400 miliar dan Bank Sumsel Babel sebesar Rp 250 miliar. Bank Sumut dan Bank Kalbar masing-masing mengucurkan pinjaman Rp 200 miliar. Bank Jateng, Bank Kaltimtara, Bank SulselBar, dan Bank Bali masing-masing senilai Rp100 miliar, disusul Bank Sulteng, Bank Kalteng, Bank Bengkulu, dan Bank Maluku Malut masing-masing senilai Rp50 miliar. Porsi kredit dapat diisi ulang oleh kreditur hingga sebesar fasilitas sindikasi konvensional.

Terkait pembiayaan syariah

Terkait pembiayaan syariah, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) menyetor Rp 500 miliar, Bank Jatim Rp 325 miliar, Bank Sumut Rp 305 miliar, Bank Aceh Syariah Rp 200 miliar, Bank Kalsel Rp 150 miliar, Bank Kaltimtara Rp 85 miliar, Bank Sumsel Babel Rp 75 miliar, disusul Bank DIY, Bank Riau dan Bank Muamalat Rp 50 miliar dan Bank Sulselbar Rp 10 miliar.

Konsorsium kredit dan pendanaan ini nantinya akan diteruskan kepada para peserta program Mekaar yaitu layanan pinjaman modal untuk perempuan kurang mampu di usaha ultra mikro dan UlaMM, layanan pinjaman modal usaha mikro dan kecil dengan pendanaan langsung ke individu dan bisnis, di antaranya adalah 10,8 juta Ultra-Mini, Micro dan Small Business di seluruh Indonesia, dengan penjualan mencapai Rp100,86 triliun pada 30 November.

“Dengan pendanaan yang kami teruskan kepada PNM Mekaar dan ULaMM ini, kami berharap dapat membantu mengembangkan usaha para pelaku UMKM binaan PNM dan memajukan perekonomian bagi perempuan dan pelaku UMKM yang kurang beruntung. “Ujar Sunar Basuki, selaku direktur kelembagaan dan perencanaan PT PNM. .

“Dengan ditandatanganinya perjanjian pinjaman sindikasi ini diharapkan dapat menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi negara di masa pandemi ini. Sindikasi ini juga sejalan dengan harapan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta agar Bank DKI dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di DKI Jakarta dengan melayani lebih dari 100.000 UMK di DKI Jakarta dan melalui agen bank (JakOne Abank) menuju digital. UMKM ke depan” ujar Fidri.

BACA JUGA : Dukungan Bank America Mencapai $17 Juta Sejak 2020

Ia menambahkan, saat ini bank DKI sedang lebih mempercepat penerbitan kredit mikro, yang dengan portofolio Rp 1,16 triliun pada September 2020 meningkat 30,6% year-on-year menjadi Rp 1,51 triliun pada September 2021 dengan lebih dari 8 ribu nasabah UMK telah tumbuh.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.